Welcome To Portal Komuniti :: Ukhwah.com

  Create An Account Home  ·  Topik  ·  Statistik  ·  Your Account  ·  Hantar Artikel  ·  Top 10 18-09-2019  

  Login
Nickname

Password

>> Mendaftar <<

  Mutiara Kata
Kecantikan tidak terletak pada wajah seseorang tapi pada mata yang memandang
-- Kata Bijaksana

  Menu Utama

  Keahlian Ukhwah.com
Terkini: mengintaisyurga
Hari Ini: 0
Semalam: 0
Jumlah Ahli: 43096

  Sedang Online
Sedang Online:
Tetamu: 52
Ahli: 0
Jumlah: 52




  Yang Masuk Ke Sini
IbnuKhaldun: 10 hari yang lalu
alongmina: 14 hari yang lalu
muslimin23: 19 hari yang lalu
kasih_kekasih: 24 hari yang lalu
budakbesar: 30 hari yang lalu
azemi: 34 hari yang lalu


Isu dan Ehwal Semasa
Topik: Tidak Memilih/Mengundi Hukumnya Haram?


Carian Forum

Moderator: Administrator, hafeezzul
Portal Komuniti :: Ukhwah.com Indeks Forum
  »» Isu dan Ehwal Semasa
    »» Tidak Memilih/Mengundi Hukumnya Haram?

Please Mendaftar To Post


Oleh Tidak Memilih/Mengundi Hukumnya Haram?

budakbesar
Warga 3 Bintang
Menyertai: 09.05.2005
Ahli No: 16407
Posting: 98
Dari: labuan

Sabah  


posticon Posting pada: 01-02-09 10:51


Salam

Majelis Ulama Indonesia telah menfatwakan golput (baca: golongan putih), iaitu mereka yang bersikap tidak memilih / mengundi mana-mana calon yang bertanding dalam pilihanraya , hukumnya haram.

apa pandangan kalian?

saya, ilmu agama ni, kurang. saya juga nak tanya,

apakah hukum tentang 'fatwa' sebenarnya?

bagaimanakan proses sesebuah 'fatwa' dikeluarkan?

apakah yang dipertimbangkan dalam penentuan sesebuah 'fatwa'?


apakah pandangan anda tentang fatwa mereka yang tidak memilih/mengundi sebagai haram?

p/s- untuk artikel2 lebih lengkap tentang fatwa ini, sila google sendiri. Terima Kasih

Bookmark and Share

  


  Member Information For budakbesarProfil   Hantar PM kepada budakbesar   Quote dan BalasQuote

ikrimah
Warga 4 Bintang
Menyertai: 26.12.2008
Ahli No: 36514
Posting: 154
Dari: terengganu

Terengganu   avatar


posticon Posting pada: 01-02-09 16:32


salam...
ana bab fatwa ni ana kurang arif juga...
tapi setakat yang ana tahu mengundi ni.. sebenarnya kita berjihad fi sabilillah juga..

pasal di akhirat esok2 kita akan bersama pemimpin yang kita pilih tu..
kalau yang melaksanakan amanah syariat Islam selamatla kita..InsyaAllah...kalau yang tidak amanah kita akan dipersoalkan oleh Allah atas pemilihan kita itu...kalau yang tak mengundi langsung pun akan dipersoal oleh Allah kerana kita diberi akal oleh Allah untuk memilih pemimpin yang terbaik..

wallahua'lam...

Bookmark and Share

  


  Member Information For ikrimahProfil   Hantar PM kepada ikrimah   Quote dan BalasQuote

wuzaraa
WARGA SETIA
Menyertai: 20.02.2008
Ahli No: 32664
Posting: 1829
Dari: Asia Tenggara

Johor  


posticon Posting pada: 02-02-09 16:26


Mengundi hukum asalnya adalah harus.

Demokrasi pula adalah hukum kufur.

Pilihanraya demokrasi adalah haram.

Bookmark and Share

  


  Member Information For wuzaraaProfil   Hantar PM kepada wuzaraa   Quote dan BalasQuote

fikrul_mustanir
WARGA SETIA
Menyertai: 03.11.2006
Ahli No: 27196
Posting: 744
Dari: The Future Khilafah State

blank   avatar


posticon Posting pada: 03-02-09 08:24


TANGGAPAN HIZBUT TAHRIR INDONESIA
TERHADAP FATWA MUI TENTANG GOLPUT

Melalui forum Ijtima’ Ulama yang diselenggarakan pada 24 – 26 Januari 2009 lalu di Padang Panjang, Sumatera Barat, MUI mengeluarkan sejumlah fatwa, diantaranya tentang Golput (Tidak Menggunakan Hak Pilih dalam Pemilihan Umum). Dikutip dari naskahnya, fatwa itu berbunyi sebagai berikut:


Pemilihan umum dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa.

Memilih pemimpin dalam Islam adalah kewajiban untuk menegakkan imamah dan imarah dalam kehidupan bersama.

Imamah dan imarah dalam Islam menghajatkan syarat-syarat sesuai dengan ketentuan agama agar terwujud kemashlahatan dalam masyarakat.

Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangkan kepentingan umat Islam hukumnya adalah wajib.

Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 1 (satu) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.

Selanjutnya fatwa ini diikuti dengan dua rekomendasi, yakni: (1) Umat Islam dianjurkan untuk memilih pemimpin dan wakil-wakilnya yang mengemban tugas amar makruf nahi munkar; (2) Pemerintah dan penyelenggara pemilu perlu meningkatkan sosialisasi penyelenggaraan pemilu agar partisipasi masyarakat dapat meningkat, sehingga hak masyarakat terpenuhi.


Terhadap fatwa di atas, Hizbut Tahrir Indonesia memberikan tanggapan sebagai berikut:

1. Benar bahwa kepemimpinan adalah perkara yang sangat penting dalam Islam. Dengan adanya seorang pemimpin, maka kepemimpinan (imamah) dan pengaturan (imarah) masyarakat agar tercipta kemashlahatan bersama dapat diwujudkan. Oleh karena itu, benar pula bahwa memilih pemimpin dalam Islam yang memenuhi syarat-syarat sesuai dengan ketentuan agama (Islam), yakni yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangkan kepentingan umat Islam, agar terwujud kemashlahatan bersama dalam masyarakat adalah sebuah kewajiban. Tapi kewajiban di sini harus dikatakan sebagai kewajiban kolektif (fardhu kifayah), dimana bila kepemimpinan yang Islami telah terwujud, maka kewajiban itu bagi yang lainnya telah gugur.

2. Benar bahwa memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 1 (satu) adalah haram. Tapi harus dikatakan, bahwa meski secara personal pemimpin tersebut telah memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 1 (satu), sebagai pemimpin ia wajib memimpin semata-mata berdasarkan syariat Islam saja, karena kemashlahatan bersama hanya akan benar-benar terwujud bila pemimpin mengatur masyarakat dengan syariat Islam. Tanpa syariat Islam, meski pemimpin itu secara personal telah memenuhi syarat agama, yang terjadi bukan kemaslahatan, tapi mafsadat atau kerusakan seperti yang terjadi sekarang ini.

3. Telah ditetapkan melalui fatwa MUI sebelumnya bahwa Sekularisme hukumnya haram, maka memimpin berdasarkan Sekularisme juga harus dinyatakan haram. Karenanya, memilih pemimpin yang akan memimpin dengan Sekularisme atau menolak syariat Islam demi mempertahankan Sekularisme, juga seharusnya dinyatakan haram.

4. Adapun ketetapan bahwa tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram, tidaklah tepat, karena kewajiban memilih pemimpin adalah kewajiban kolektif (fardhu kifayah), bukan kewajiban perorangan (fardhu ain). Itu pun dengan catatan, jika pemimpin yang dipilih atau diangkat tersebut adalah pemimpin yang benar-benar akan menjalankan syariat Islam.

5. Bagi siapa saja yang akan turut memilih pemimpin, maka wajib ia memilih pemimpin yang memenuhi kriteria agama (Islam), dan yang dipastikan akan memimpin berdasarkan syariat Islam semata. Karena itu, rekomendasi poin 1 dimana umat Islam dianjurkan untuk memilih pemimpin dan wakil-wakilnya yang mengemban tugas amar makruf nahi munkar, tidaklah tepat. Mestinya, bukan dianjurkan, tapi diwajibkan memilih pemimpin yang mampu mengemban tugas amar makruf nahi mungkar, bukan yang sebaliknya.

6. Adapun tentang pemilihan wakil rakyat, tidaklah bisa disamakan dengan pemilihan pemimpin karena hukum memilih wakil rakyat memang berbeda dengan memilih pemimpin. Hukum memilih pemimpin yang mengemban tugas amar makruf nahi munkar melalui penerapan syariat Islam secara kaffah adalah fardhu kifayah. Sedangkan memilih wakil rakyat yang mengemban tugas amar makruf nahi munkar adalah mubah, mengingat hukumnya mengikuti hukum wakalah (perwakilan) dimana seseorang boleh memilih, boleh juga tidak. Maka, bagi umat Islam yang akan memilih wakilnya mestinya juga bukan sekedar dianjurkan, tapi diwajibkan untuk memilih yang akan benar-benar mampu mengemban amar makruf nahi munkar. Dan sebaliknya, dalam fatwa itu semestinya harus dinyatakan haram memilih wakil rakyat yang sekuler dan tidak mengemban amar makruf nahi munkar.


Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia


Muhammad Ismail Yusanto

Hp: 0811119796 Email: [email protected]

Bookmark and Share

  


  Member Information For fikrul_mustanirProfil   Hantar PM kepada fikrul_mustanir   Quote dan BalasQuote

jebat_86
Warga 3 Bintang
Menyertai: 31.10.2008
Ahli No: 35674
Posting: 121

blank   avatar


posticon Posting pada: 24-02-09 01:46


Pada 02-02-09 16:26 , wuzaraa posting:

!!! QUOTE !!!

Mengundi hukum asalnya adalah harus.

Demokrasi pula adalah hukum kufur.

Pilihanraya demokrasi adalah haram.


Dalil..??
ha3..kapala tau... :-P

Bookmark and Share

  


  Member Information For jebat_86Profil   Hantar PM kepada jebat_86   Quote dan BalasQuote

Member Messages

Forum Search & Navigation

 

Log in to check your private messages

Silakan Login atau Mendaftar





  


 

[ Carian Advance ]

Jum ke Forum 




Datacenter Solution oleh Fivio.com Backbone oleh JARING Bukan Status MSCMyPHPNuke Portal System

Disclaimer: Posting dan komen di dalam Portal Komuniti Ukhwah.com ini adalah menjadi hak milik ahli
yang menghantar. Ia tidak menggambarkan keseluruhan Portal Komuniti Ukhwah.com.
Pihak pengurusan tidak bertanggung jawab atas segala perkara berbangkit
dari sebarang posting, interaksi dan komunikasi dari Portal Komuniti Ukhwah.com.


Disclaimer: Portal Komuniti Ukhwah.com tidak menyebelahi atau mewakili mana-mana parti politik
atau sebarang pertubuhan lain. Posting berkaitan politik dan sebarang pertubuhan di dalam laman web ini adalah menjadi
hak milik individu yang menghantar posting. Ia sama-sekali tidak ada
kena-mengena, pembabitan dan gambaran sebenar pihak pengurusan Portal Komuniti Ukhwah.com

Portal Ukhwah
Hakcipta 2003 oleh Ukhwah.com
Tarikh Mula: 14 Mei 2003, 12 Rabi'ul Awal 1424H (Maulidur Rasul)
Made in: Pencala Height, Bandar Sunway dan Damansara Height
Dibina oleh Team Walasri




Loading: 0.108851 saat. Lajunya....