Welcome To Portal Komuniti :: Ukhwah.com

  Create An Account Home  ·  Topik  ·  Statistik  ·  Your Account  ·  Hantar Artikel  ·  Top 10 08-04-2020  

  Login
Nickname

Password

>> Mendaftar <<

  Mutiara Kata
Nothing Last Forever
-- Sidney Sheldon

  Menu Utama

  Keahlian Ukhwah.com
Terkini: Athiqullah83
Hari Ini: 0
Semalam: 0
Jumlah Ahli: 43132

  Sedang Online
Sedang Online:
Tetamu: 25
Ahli: 0
Jumlah: 25




  Yang Masuk Ke Sini
ikhwan5217: 2 hari yang lalu
Martyr: 6 hari yang lalu
Ahmadmohd7878: 10 hari yang lalu


Bincang Agama
Topik: Pemikiran Menyeleweng dalam Metod Dakwah Islam


Carian Forum

Moderator: ibnu_musa, Administrator, ABg_IMaM
Portal Komuniti :: Ukhwah.com Indeks Forum
  »» Bincang Agama
    »» Pemikiran Menyeleweng dalam Metod Dakwah Islam

Please Mendaftar To Post


Oleh Pemikiran Menyeleweng dalam Metod Dakwah Islam

heejazi
Warga Rasmi
Menyertai: 25.11.2006
Ahli No: 27484
Posting: 12

blank   avatar


posticon Posting pada: 07-12-06 17:32


Pemikiran Menyeleweng dalam Metod Dakwah Islam
oleh:Abdullah Yusuf Pulungan*

Dalam konteks perjuangan dakwah Islam, kita kerap menjumpai sejumlah
pemikiran yang dilontarkan oleh sebagian ulama, pemikir, jamaah,
atau partai Islam yang telah keluar dari manhaj Rasulullah saw., di
samping mengalami banyak distorsi. Fenomena semacam ini tidak jarang
malah mewujud dalam aktivitas dakwah yang bukan saja kontradikstif
dengan metode dakwah Rasulullah saw., tetapi sekaligus juga
kontraproduktif dengan realitas yang harus diubah.

Berkaitan dengan sejumlah distorsi pemikiran yang terkait dengan
metode dakwah Rasulullah saw. ini, tulisan berikut hanya akan
menyoal dua mainstream pemikiran yang, diakui ataupun tidak, turut
mewarnai arah perjuangan dakwah Islam saat ini secara keseluruhan.
Kedua pemikiran tersebut adalah: (1) Pemikiran yang menyatakan bahwa
bagi kaum Muslim, yang dituntut sesungguhnya adalah ibadah, bukan
mendirikan Daulah Islamiyah; (2) Pemikiran yang meyakini bahAwa
mengangkat senjata dalam menghadapi penguasa saat ini merupakan
bagian dari metode dakwah yang wajib untuk diikuti.

Pemikiran Pertama

Pengemban pemikiran pertama berargumentasi bahwa sesungguhnya
Rasulullah saw. telah mengajak kaum Muslim untuk beribadah kepada
Allah dan tidak mengajak mereka untuk mendirikan Daulah Islamiyah.
Mereka menyatakan pula bahwa permasalahan paling utama bagi kaum
Muslim adalah ibadah kepada Allah dan bukan Daulah Islamiyah.
Menurut mereka, tidaklah penting bagi kita untuk mendirikan Daulah
Islamiyah; yang penting adalah menyembah Allah.

Untuk menjawab argumentasi mereka, kita harus menentukan realiti dan
realisasi ibadah itu sendiri.

Sebagaimana kita pahami, Allah Swt. memang telah menciptakan manusia
untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah kepada Allah Swt. merupakan
raison d'etre dari diciptakannya manusia. Kesaksian Lâ ilâha illâ
Allâh (Tidak ada tuhan selain Allah) sendiri bermakna Lâ ma'bûda
illâ Allâh (Tidak ada yang layak disembah selain Allah). Artinya,
selain Allah Swt. wajib diingkari. Sementara itu, kesaksian Muhammad
Rasulullâh (Muhammad adalah utusan Allah) berarti bahwa ibadah dan
ketaatan haruslah sebagaimana yang disampaikan oleh Muhammad
Rasulullah saw. saja. Dengan demikian, ibadah ditujukan semata-mata
untuk Allah, dan tidak dilakukan kecuali dengan cara yang telah
disyariatkan oleh Allah, yakni yang dibawa oleh Rasulullah saw.
saja. Inilah hal yang wajib untuk direalisasikan di dalam setiap
perkataan dan perbuatan manusia di dalam kehidupannya.

Ibadah adalah menjadikan setiap perbuatan manusia berjalan sesuai
dengan perintah dan larangan Allah Swt. Hendaknya semua itu
dilakukan dengan didasarkan pada keimanan kepada-Nya semata. Ketika
Anda berkata pada seorang Muslim, "Hendaklah Anda mengabdi kepada
Allah," maka yang dimaksud tentu bukan sekadar agar dia melakukan
shalat, zakat, haji, atau ibadah ritual lainnya; sebagaimana yang
telah ditulis oleh para fuqaha di dalam bab ibadah. Akan tetapi,
yang dimaksud tentu saja agar dia menjalankan seluruh ketaatan
kepada Allah Swt. dalam setiap perintah dan larangan-Nya.

Iman kepada Allah adalah pokok atau dasar keimanan, sedangkan ibadah
itu sendiri merupakan realisasi setiap perbuatan yang didasarkan
pada keimanan kepada Allah Swt. ini. Atas dasar ini, agama
seluruhnya adalah ibadah, sedangkan ibadah berarti ketundukan diri
kepada Zat yang diibadahi dengan penuh kepasrahan.

Di antara jenis ibadah dan ketaatan kepada Allah Swt. adalah
melakukan aktiviti amar makruf nahi mungkar, jihad fi sabilillah
untuk memerangi orang-orang kafir dan munafik, menegakkan agama
Allah di dalam kehidupan kaum Muslim, menyebarkan dakwah ke tengah-
tengah manusia semuanya, serta memelihara kesatuan kaum Muslim
sebagaimana tampak dalam shalat, zakat, dan berdirinya Daulah
Islamiyah. Artinya, ibadah kepada Allah Swt. meliputi setiap
perbuatan manusia yang dilakukan oleh seorang Muslim sesuai dengan
realitas di mana dia hidup. Akan tetapi, oleh karena keimanan kepada
Allah Swt. adalah pangkal setiap ibadah, maka dakwah pada keimanan
ini harus lebih didahulukan daripada dakwah kepada shalat dan shaum,
misalnya. Diharapkan, keimanan inilah yang akan memotivasi seorang
Mukmin untuk senantiasa terikat dengan hukum syariat di dalam setiap
perbuatannya.

Kita memahami bahwa dakwah untuk menegakkan Islam dan berhukum
dengan wahyu Allah merupakan salah satu perintah Allah yang wajib
ditaati dan dikerjakan seorang Mukmin yang beriman kepada Allah.
Dengan begitu, ibadah akan terealisasi dengan sempurna. Oleh karena
itu, kita wajib mengaitkan dakwah (seruan) pada aktivitas beribadah
kepada Allah dengan berbagai problem sekarang ini. Semua ini
tercakup di dalam aktivitas dakwah pada upaya melanjutkan kehidupan
islami. Kehidupan islami tidak akan pernah teralisasi kecuali dalam
Daulah Islamiyah. Oleh karena itu, dakwah untuk mendirikan Daulah
Islamiyah pada dasarnya adalah dakwah ke arah aktivitas ibadah
kepada Allah.

Walhasil, adanya pemikiran yang menyerukan ibadah kepada Allah
sembari menolak seruan untuk menegakkan Daulah Islamiyah yang justru
merupakan institusi yang bisa menjamin aktivitas ibadah kepada Allah
berjalan dengan sempurna merupakan pemikiran keliru. Alasannya,
pemikiran semacam ini menunjukkan bahwa seolah-olah mendirikan
Daulah Islamiyah kontradiktif atau kontraproduktif dengan ibadah, di
samping di dalamnya mengandung upaya untuk membenturkan sebagian
ayat al-Quran dengan sebagian ayat yang lain. Tindakan seperti ini
jelas haram dilakukan oleh kaum Muslim.

Pemikiran Kedua

Para pengemban pemikiran kedua, yakni mereka yang berpendapat bahwa
mengangkat senjata dalam menghadapi penguasa sekarang ini adalah
bagian dari metode dakwah yang wajib untuk diikuti, berdalil dengan
hadis Rasulullah saw. tentang keharusan untuk memerangi penguasa
yang tidak menegakkan hukum Allah.

Untuk menjawab pemahaman ini, kami ingin menegaskan bahwa diperlukan
eksplorasi fakta (tahqîq al-manâtahu) atas hadis ini secara cermat.

Sebagaimana kita pahami, hadis ini menyoroti penguasa (khalifah) di
dalam Darul Islam (Daulah Islam) yang dibaiat dengan baiat yang
sesuai dengan ketatapan syariat.

Darul Islam sendiri adalah institusi negara yang diperintah dengan
hukum Islam dan keamanannya berada sepenuhnya di tangan kaum Muslim.
Dalam kondisi semacam ini, kaum Muslim diperintahkan untuk selalu
menaati pemimpinnya, yakni khalifah. Jika penguasa (khalifah)
melakukan kelalaian dalam menerapkan hukum Allah dan malah
memerintah kaum Muslim dengan hukum-hukum kufur meskipun hanya
dengan satu hukum, sementara dia tidak memiliki satu dalil pun,
meskipun hanya syubhah dalîl maka kaum Muslim diperintahkan untuk
memeranginya. Lebih jelasnya, sebagaimana dituturkan oleh `Auf ibn
Malik al-Asyja'i, disebutkan demikian:

Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Sebaik-baik pemimpin
kalian adalah orang-orang yang kalian cintai dan mereka pun
mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan
kalian. Sebaliknya, seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-orang
yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian." Ditanyakan, "Ya
Rasulullah, apakah kami harus mengangkat senjata ketika hal itu
terjadi?" Beliau bersabda, "Tidak, selama mereka menegakkan shalat."
.

Kalimat selama menegakkan shalat mengandung makna kinâpayah, yakni
selama menerapkan hukum-hukum syariat.

Penguasa Darul Islam (khalifah) tentu berbeda realitasnya dengan
penguasa Darul Kufur (presiden atau raja). Presiden atau raja,
sebagaimana dijumpai di seluruh negeri Islam, bukanlah imam atau
khalifah bagi kaum Muslim, meskipun mereka memerintah kaum Muslim.
Negara mereka bukanlah negara Islam (Darul Islam). Mereka sendiri
tidak diangkat menduduki jabatan penguasa dengan pengangkatan yang
sesuai dengan syariat. Selain itu, mereka tidak menerapkan hukum-
hukum Islam (secara total) dalam kehidupan kaum Muslim, meskipun hal
itu wajib atasnya. Menghadapi dan sekaligus mengubah realitas
semacam ini tentu tidak dengan mengangkat senjata. Inilah juga yang
dilakukan oleh Rasulullah saw. di Makkah, yakni ketika Daulah Islam
belum berdiri.

Jika kita menelaah sirah Rasulullah saw., akan kita temukan bahwa
dalam melakukan perubahan, beliau menjamin terwujudnya beberapa
aspek berikut: (1) Tersedianya pemimpin Muslim politikus yang hebat.
Dia adalah pemimpin yang memiliki pengalaman bertahun-tahun—yang dia
dapatkan dari aktivitas mengemban dakwah sebelum mendirikan Daulah
Islamiyah; yang mengetahui strategi, kedustaan, dan kelicikan negara-
negara kafir; serta yang mampu melindungi negara dan membawanya
berpindah kepada posisi yang layak dalam percaturan dunia. (2)
Tersedianya para pemuda Muslim yang siap menanggung beban dakwah
sebelum berdirinya negara. Merekalah yang, bersama kaum Muslim lain
yang mementingkan dakwah, akan menjadi pusat kekuasaan yang islami.
Merekalah pula yang kelak—setelah berdirinya Daulah Islamiyah—akan
menjadi para wali, amirul jihad, para duta negara, dan para
pengemban dakwah ke negara-negara lain. (3) Tercukupinya dukungan
massa yang siap-sedia untuk menjaga serta melindungi Islam dan
Daulah Islam. (4) Tercukupinya orang-orang yang memiliki kekuatan
dan terlatih yang akan semakin kuat dengan adanya keberpihakan
masyarakat kepada mereka, terutama ketika masyarakat menyadari bahwa
penguasa, struktur kekuasaannya, dan kekuatan yang mendukungnya
harus merealisasikan penerapan Islam dan memuliakan agama.

Selain beberapa alasan di atas, aktivitas bersenjata membutuhkan
harta, senjata, dan pelatihan. Hal semacam ini akan menggerogoti
kekuatan sebuah harakah dakwah sehingga, boleh jadi, akan
mendorongnya untuk meminta bantuan kepada pihak lain. Tindakan
semacam ini akan menjadi cikal-bakal kejatuhan gerakan dakwah
tersebut. Banyak gerakan Islam yang telah mencoba jalan ini dan
selalu mengalami kehancuran.

Dengan demikian, kami ingin mengatakan bahwa, mengangkat senjata
dalam melakukan perubahan di tengah-tengah realitas sosial dan
politik seperti sekarang ini bukanlah bagian dari metode yang sesuai
dengan syariat. Hal ini bukan karena kami menyayangi penguasa yang
zalim dan tidak memperhatikan kaum Muslim, tetapi justru karena kami
sayang kepada saudara-saudara kami seagama yang berjuang secara
ikhlas. Oleh karena itu, kami ingin menyatukan seluruh potensi dan
usaha mereka agar semata-mata sesuai dengan tuntutan syariat. Dalam
hal ini, kami ingin mengingatkan mereka dalam kaitannya dengan
larangan Nabi saw. kepada para sahabat di Makkah untuk menggunakan
senjata (kekerasan) ketika mereka ingin melakukannya. Beliau
bersabda, "Sungguh. Aku diperintahkan untuk memberi maaf. Oleh
karena itu, janganlah kalian memerangi mereka." (Sirah Ibn Hisyam).

Allah Swt. sendiri berfirman:

"Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada
mereka, "Tahanlah tanganmu (dari melakukan tindakan kekerasan/angkat
senjata), dirikanlah sembahyang, dan tunaikanlah zakat!" (Qs. an-
Nisa' : 77).

Banyak sekali dalil-dalil syariat yang serupa dengan itu yang
intinya menegaskan bahwa dakwah Rasulullah saw. adalah dakwah tanpa
kekerasan. Tambahan atau perubahan apa pun, juga pengurangan,
penggantian, atau penyelewengan atas metode dakwah Rasulullah saw.
pasti hanya akan segera memberikan pengaruh negatif bagi dakwah,
jamaah, dan umat Islam sendiri. Wallâhu a'lam.

Bookmark and Share

    


  Member Information For heejaziProfil   Hantar PM kepada heejazi   Quote dan BalasQuote

smartzul
Warga 1 Bintang
Menyertai: 26.02.2006
Ahli No: 23005
Posting: 32
Dari: Johor Bahru

Kelantan  


posticon Posting pada: 07-12-06 18:52


Bagus artikel ni.. Apa yang dapat saya simpulkan, amalkan Agama Islam itu secara syumul (menyeluruh). Kembali kepada dasar pegangan ahlus sunnah wal jama'ah. InsyaAllah, kita berada di atas dasar yang seimbang dan tidak kurang serta tidak berlebih-lebih.. :)


-----------------
Membina Perniagaan Yang DiRedhai Allah. Klik Di Sini.


Bookmark and Share

    


  Member Information For smartzulProfil   Hantar PM kepada smartzul   Pergi ke smartzul's Website   Quote dan BalasQuote

Member Messages

Forum Search & Navigation

 

Log in to check your private messages

Silakan Login atau Mendaftar





  


 

[ Carian Advance ]

Jum ke Forum 




Datacenter Solution oleh Fivio.com Backbone oleh JARING Bukan Status MSCMyPHPNuke Portal System

Disclaimer: Posting dan komen di dalam Portal Komuniti Ukhwah.com ini adalah menjadi hak milik ahli
yang menghantar. Ia tidak menggambarkan keseluruhan Portal Komuniti Ukhwah.com.
Pihak pengurusan tidak bertanggung jawab atas segala perkara berbangkit
dari sebarang posting, interaksi dan komunikasi dari Portal Komuniti Ukhwah.com.


Disclaimer: Portal Komuniti Ukhwah.com tidak menyebelahi atau mewakili mana-mana parti politik
atau sebarang pertubuhan lain. Posting berkaitan politik dan sebarang pertubuhan di dalam laman web ini adalah menjadi
hak milik individu yang menghantar posting. Ia sama-sekali tidak ada
kena-mengena, pembabitan dan gambaran sebenar pihak pengurusan Portal Komuniti Ukhwah.com

Portal Ukhwah
Hakcipta 2003 oleh Ukhwah.com
Tarikh Mula: 14 Mei 2003, 12 Rabi'ul Awal 1424H (Maulidur Rasul)
Made in: Pencala Height, Bandar Sunway dan Damansara Height
Dibina oleh Team Walasri




Loading: 0.110021 saat. Lajunya....